Senin, 28 Januari 2013

Laporan Biologi Perikanan


Pengukuran Pendugaan Populasi, Hubungan Berat Dan Panjang, Fekunditas Ikan
Laporan Praktikum Biologi Perikanan

Disusun oleh :
                                  NINDA RIZKIYANI    ( 1005560321)


PROGRAM STUDI BUDI DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2013





Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan mata kuliah Biologi Perikanan. Laporan ini di susun dalam rangka memenuhi Nilai praktikum mata kuliah tersebut.
Dalam menyusun laporan  ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Basuki Rahardjo, M.Si selaku dosen mata Biologi Perikanan.
2. Orang tua tercinta yang selalu mendukung, mendoakan dan memberikan bantuan baik moril maupun materil.
4.  Seluruh teman – teman yang telah banyak membantu penulis.
5. Serta semua pihak yang telah membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya laporan ini. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Pekalongan, Januari 2013

                                                           
                                                Penulis
BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Memanfaatkan dan mengelolah sumberdaya perikanan perlu memahami beberapa hal ilmu mengenai biologi perikanan, ilmu biologi perikanan dapat mendukung usaha perikanan dan perikanan yang berkelanjutan. Biologi perikanan adalah studi mengenai ikan sebagai sumber daya yang dapat dipanen oleh manusia. Biologi perikanan mempelajari daur hidup ikan, mulai dari lahir sampai mati. Biologi ikan khusus mempelajari tentang kehidupan ikan-ikan yang berupa pertumbuhan ikan, tentang bagaimana ikan-ikan dalam suatu populasi melakukan pemijahan, tumbuh dan menentukan kebiasaan makanan. Dinamika populasi ikan khusus mempelajari perubahan populasi ikan, tentang bagaimana kecepatan populasi ikan tumbuh, mati dan memperbanyak keturunan, selain itu dapat menentukan penyebaran, mengetahui jumlah telur dan tingkat kematangan gonad ikan. Dengan mengetahui ilmu biologi perikanan dapat menjadi acuan sebagai peluang yang sangat besar bagi pengembangan usaha-usaha perikanan baik berupa usaha budidaya ataupun penangkapan
Tujuan memahami biologi perikanan adalah untuk memelihara keseimbangan populasi ikan dalam suatu perairan tertentu, dimana penangkapan ikan yang dilakukan harus mengikuti norma-norma konservasi dengan mengusahakan hasil tangkapan yang paling menguntungkan secara lestari dan berkelanjutan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu diadakan praktikum laboratorium untuk mengetahui pengukuran pendugaan populasi, hubungan berat dan panjang dan fekunditas.




1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Untuk Mengetahui metode pengukuran pendugaan populasi dengan metode petterson atau sensus ganda.
2.      Untuk mengetahui hubungan berat dan panjang ikan.
3.      Untuk mengetahui fekunditas ikan mujair.

1.3  Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat memahami cara pendugaan populasi dengan metode sensus ganda.
2.      Mahasiswa dapat memahami hubungan berat dan panjang ikan.
3.      Mahasiswa dapat menghitung fekunditas telur ikan.















BAB II
Tinjaun Pustaka

2.1. Biologi dan Habitat Ikan Layang
Klasifikasi ikan layang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
SubOrdo : Percoidei
Famili : Carangidae
Genus : Decapterus
Spesies : Decapterus russelli RUPPELL
http://1.bp.blogspot.com/-nr7OU0LL7d8/TbLwzDPJMyI/AAAAAAAAAGo/lxBv9QrmfTs/s320/ikan_sarden_layang.jpg
Gambar 1. Ikan Layang
Ikan layang (Decapterus russelli) mempunyai nama umum round scad (Nurhakim, 1987). Ikan layang merupakan ikan yang mempunyai kemampuan bergerak dengan cepat di air laut. Tingginya kecepatan tersebut dapat dicapai karena bentuk tubuhnya yang seperti cerutu dan mempunyai sisik yang sangat halus (Burhanuddin et. al. 1981).
Ikan layang (Decapterus russelli) bentuk tubuh seperti cerutu tetapi agak pipih, sirip dada lebih pendek dari panjang kepala, maxilla hampir mencapai lengkung mata terdepan, ikan layang (Decapterus russelli) dalam keadaan segar seluruh tubuhnya berwarna merah jambu, dan pada bagian belakang tutup insang terdapat totol hitam (Burhanuddin et al, 1981). Menurut Anonimous (1990) ciri-ciri ikan layang adalah bentuk tubuh memanjang dan agak gepeng. Nurhakim (1987) menyatakan sirip dada berbentuk falcate dan ujung sirip tersebut mencapai awal dari sirip punggung kedua.
Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di Laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. Menurut Hariati et al., (2005) Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu ± 32‰. Ikan layang juga termasuk dalam ikan stenohalyn yang dapat hidup dengan memakan plankton (Burhanuddin et.al.,1981). Makanan ikan layang sangat tergantung pada plankton, terutama jenis-jenis zooplankton. Pada beberapa kasus ternyata bahwa ikan layang tidak mutlak tergantung pada zooplankton. Tiews et al. (1968) dalam Burhanuddin et al. (1981) mendapatkan bahwa ikan-ikan kecil merupakan makanan bagi Decapterus russelli dan Burhanuddin pernah menemukan satu ekor dari kota agung isi perutnya hanya dua ekor ikan teri (Stolephorus spp.) dan seekor ikan japuh (Dussumiera acuta). Menurut Martosewojo dan Djamali (1980) dalam Burhanuddin (1981) makanan Decapterus russelli yang utama adalah Crustacea seperti Copepoda serta telurnya, Mysidacea, Amphipoda, Ostracoda, dan potongan-potongan udang.
2.2. Aspek Reproduksi Ikan Layang
Reproduksi ikan merupakan suatu peristiwa pertemuan gamet ikan jantan dan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa. Pada umumnya reproduksi atau pembuahan terjadi di luar tubuhnya yang disebut fertilisasi eksternal. Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya (Fujaya, 2004). Menurut widodo (1991) dalam Pralampita et al., (2002), reproduksi merupakan suatu proses perkembangbiakan jenis
ikan sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam memanfaatkan dan mengelola suatu sumberdaya ikan harus memperhitungkan dan mempertimbangkan proses perkembangbiakan dalam rangka untuk mencegah kepunahan sumberdaya tersebut salah satu aspek reproduksi yang penting dalam pengelolaan sumberdaya ikan adalah tingkat kematangan gonad (TKG). Dengan demikian data tentang potensi reproduksi spesies-spesies ikan yang terdapat di suatu perairan merupakan informasi penting yang harus dimiliki untuk mendapatkan stok ikan dalam rangka strategi dan pengelolaan perikanan. Aspek reproduksi ikan meliputi IGS, tingkat perkembangan gonad, fekunditas, dan diameter telur.
2.2.1. Tingkat Perkembangan Gonad
Tingkat perkembangan gonad adalah tahap perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan berpijah. Fase reproduksi ikan ditandai dengan adanya perubahan dan perkembangan organ reproduksi ikan. Perubahan morfologi organ reproduksi ikan mudah dikenali, oleh karena itu dapat digunakan sebagai indikator tingkat kematangan kelamin yang dikenal dengan istilah tingkat perkembangan gonad. Komposisi tingkat perkembangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan antara ikan yang belum atau sudah matang gonad, sebelum mijah atau sudah mijah dan waktu memijah (Effendie, 1979 ).
Penentuan tingkat perkembangan gonad dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Untuk penentuan tingkat perkembangan gonad yang dilakukan secara morfologi dapat dilihat bentuk, panjang, bobot, dan warna serta perkembangan isi gonad. Penentuan tingkat perkembangan gonad secara histologi dapat dilihat dari sel-sel jaringannya (Effendie, 1997).
2.2.2. Indeks Gonado Somatik (IGS)
Nilai Indeks Gonado Somatik (IGS) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dan dikalikan dengan 100%. Nilai IGS pada ikan betina lebih besar dibandingkan dengan jantan, dan nilai IGS akan semakin bertambah besar sejalan dengan perkembangan gonad dan akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Nilai IGS ikan Thead fin berkisar antara 1-25%, ikan dengan nilai IGS 19% ada yang sanggup mengeluarkan telurnya. Nilai IGS pada ikan jantan 5-10%, lebih kecil dibandingkan betina yang disebabkan pada ikan betina terdapat pengendapan kuning telur (Johnson, 1971 dalam Effendi, 1997).
2.2.3. Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur pada kematangan terakhir yang terdapat dalam ovarium sebelum berlangsung pemijahan. Fekunditas yang menunjukan jumlah telur yang dikandung individu ikan dikatakan sebagai fekunditas mutlak. Sedangkan jumlah telur per satuan berat atau panjang ikan disebut sebagai fekunditas relatif (Nikolsky, 1963 dalam Burhanudin et al., 1981). Fekunditas total menurut Royce (1972) dalam Effendie (1979) adalah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya
Rao (1967) dalam Burhanuddin et al., (1981) menyatakan bahwa telur yang telah matang dan siap dikeluarkan berwarna kuning sampai kemerah-
merahan, butir-butirnya mudah dipisahkan, kelihatan Opaque atau translucent dengan bintik-bintik minyak.
Fekunditas ikan bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubungannya dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-rekruitmen. Dalam hubungan tersebut ada faktor lain yang memegang peranan penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi dalam rangka mempertahankan kehadiran species itu di alam, terutama penyesuaian diri terhadap bermacam-macam kondisi lingkungan dan respon terhadap makanan (Bagenal, 1978 dalam Effendie, 1997).
Fekunditas dapat dihitung dengan beberapa cara, yaitu dengan metode jumlah, metode volumetri, metode grafimetri, dan metode von bayer (Effendie, 1979). Metode jumlah dilakukan dengan menghitung semua telur satu persatu atau dikenal pula dengan sensus lengkap, tetapi metode ini hanya dilakukan pada ikan-ikan yang mempunyai telur sedikit (Sutisno dan Sutarmanto, 1995). Metode volumetri dilaksanakan dengan cara mengukur volume seluruh telur dengan teknik pemindahan air. Effendie (1979) menjelaskan bahwa metode gravimetri dapat dilakukan dengan mengambil sebagian gonad yang sebelumnya telah disimpan dalam larutan gilson kemudian ditimbang dan dicatat serta dihitung jumlah telur yang terdapat di dalamnya.

2.3 Biologi Dan Habitat Ikan Mujair
Mujair (Oreochromis mosambicus) yang sebelumnya dikenal sebagai Tilapia mosombica merupakan ikan ekonomis penting dan dikenal cukup luas oleh masyarakat di tanah air. Ikan yang merupakan kerabat dekat nila ini berasal dari Afrika dan secara alami banyak ditemukan di sungai-¬sungai di wilayah Mozambik. Itulah sebabnya mengapa ikan ini diberi name latin Oreochromis mosambicus.
Di Indonesia Mujair merupakan ikan yang dibudidayakan di kolam air tawar dan di tambak air payau. Di habitat aslinya, mujair banyak ditemukan hidup liar di berbagai perairan air tawar, mulai dari danau, waduk, situ, rawa maupun sungai. Selain itu, mujair juga dapat ditemukan di air payau seperti di tambak atau muara sungai. Kemampuan hidup di air payau tersebut sangat dimungkinkan karena mujair memiliki toleransi yang besar terhadap berbagai tingkat salinitas air. Bahkan, masuknya ikan ini ke Indonesia diduga terjadi melalui laut (Samudera. Hindia), kemudian masuk ke perairan payau di selatan Jawa (Blitar).


Kalsifikasi
Phylum     :Chordate
Subfilum : Vertebrata
Kelas        : Pisces
Sub kelas  : Acanthopterigii
Ordo         : Perciformes
Family      : Cichlidae .
Genus       : Oreochromis
Species     : Oreochromis mosambicus
Nama asing:mossambique tilapia
Nama Lokal: mujair, ikan jepang, jabir
Mujair termasuk ikan pemakan segala (omnivore) yang memiliki sifat rakus terhadap pakan. Pakan utamanya adalah lumut-lumutan, tumbuhan air, serta serangga dan hewan kecil seperti cacing. Kebiasaan makan yang rakus menyebabkan panjang mujair dewasa bisa. mencapai maksimum 40 cm.

2.4  Sistem Reproduksi Ikan mujair
Pola reproduksi ikan mujair ini terbilang cukup unik tetapi juga sangat menarik untuk diketahui. Pemijahan akan terjadi setelah induk jantan membuat lubang sarang yang berupa cekungan di dasar kolam. Begitu pembuatan sarang selesai segera berlangsung proses pemijahan. Setelah proses pembuahan maka telur-telur hasil pemijahan segera dikumpulkan ke dalam mulut ikan mujair betina untuk dierami hingga menetas. Pada saat proses itu, induk betina tidak aktif makan sehingga terlihat kurus. Telur akan menetas kira 3-5 hari. Setelah sekitar dua minggu setelah pengetasan induk betina baru melepaskan anak-anaknya karena telah mampu mencari makan sendiri.
2.4.1        Fekunditas
Lowe dalam Gerking (1975) menyatakan bahwa fekunditas pada ikan Tilapia sp ialah jumlah anak ikan yang dihasilkan selama masa hidup individu itu. Hal ini tentu sangat sukar sekali menentukannya bahkan tidak mungkin. Sehubungan dengan sifat ikan mujair yang mengerami anak-anaknya di dalam mulut, maka Bagenal (1978) mengusulkan istilah fekunditas untuk ikan mujair ini sebagai berikut:
a. "Ovarian fecundity" yaitu jumlah telur matang yang ada dalam ovarium sebelum dikeluarkan dalam pemijahan.
b. "Brooding fecundity" yaitu jumlah telur yang sedang dierami di dalam mulutnya.
Ikan yang termasuk ke dalam golongan vivipar, yaitu ikan yang melahirkan anak-anaknya, mempunyai tiga macam fekunditas yaitu:
a. "Prefertilized fecundity" yaitu jumlah telur di dalam ovarium sebelum terjadi pembuahan.
b. "Fertilized fecundity" Yaitu jumlah telur yang dibuahi di dalam ovarium.
c. "Larval fecundity" ialah jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi belum dikeluarkan.
Menurut Bagenal (1967), untuk ikan-ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisi ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan dalam studi populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik.
Nikolsky (1969) menyatakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mergetahuinya harus menggunakan fekunditas populasi relatif.



2.5  Pendugaan Populasi
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertenty pada tiap hari atau minggu dan bulan.
Krebs (1972) menyatakan bahwa densitas atau abudance adalah jumlah perunit area atau per unit volume yang dinamakan kepadatan mutlak, sedangkan kepadatan nixbi dari suatu populasi misalnya membandingkan keberadaan populasi spesies ikan tetentu di perairan habitat A lebih banyak dari perairan habitat C.
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)
Sebenarnya populasi mengikuti labih dari satu sifat yaitu :
1. Populasi yang terpisah secara geografi dengan yang lainnya mempunyai kesempatan walaupun sedikit untuk tukar genetis.
2. Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan off nes terdapat satu seri perubahan yang gradual.
3. Populasi yang berkelompok harus disertai dengan perbedaan yang tajam dengan daerah hibridasi diantaranya (Royce dalam Pulungan et al, 2006).
Faktor-faktor yang menentukan hadirnya suatu individu di suatu lokasi perairan menurut (Mcnoughton dan Wolf, 1990) adalah distribusi spesies, distribusi lokal akan diatur oleh keseragaman perairan dan predator. Distribusi spesies pada habitatnya mengelompok menandakan ada faktor kecil yang dominan berfungsi sebagai pembatas.
(Odum, 1971) menyatakan bahwa mengelompoknya individu dalam suatu populasi disebabkan oleh respon terhadap lokasi yang berbeda, cuaca dan hasil dari proses reproduksi. Selanjutnya (Tee, 1992) menyatakan penyebaran fauna umumnya terjadi secara mendatar tergantung pada jaraknya dari perairan utama (laut) serta adaptasi fauna terhadap perubahan lingkungan.
Keberadaan suatu populasi dalam perairan dapat diduga melalui metode pendugaan populasi yang terbagi dua yaitu : 1) Secara langsung yang dilakukan dengan pengeringan pada suatu kolam yang luarnya terbatas dan dihitung satu per satu, selain itu dapat dilakukan dengan pemotretan gerombolan ikan-ikan pelagis yang hidup di laut dan dapat mengetahui kepadatannya. 2) Secara tidak langsung, dengan memperhatikan pengurangan “Catch per Unit Effort“. Dalam perhitungan menggunakan metode regresi dari De Lury, Leslie dan Davis. Dan dapat juga dengan metode penandaan (marking dan tagging). (Pulungan, 2006). Selanjutnya dikatakannya bagian-bagian tubuh ikan yang diberi tag adalah : a) Kepala yang meliputi tulang rahang, dan tutup insang, b) Bagian tubuh yang meliputi bagian depan sirip punggung, bagian belakang sirip punggung, sirip lemak (adipose fin) dan batang ekor.
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertentu pada tiap hari atau minggu dan bulan
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)

2.6  Hubungan Berat Dan Panjang
Panjang total yaitu panjang ikan yang diukur mulai dari ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir bagian ekornya. Kalau mulutnya terletak dimuka maka pada waktu pengukuran mulut harus dalam keadaan tertutup agar tercapai ujung terdepan. Ujung mulut tersebut harus diletakan pada angka nol didepan pengukur, sedangkan ujung ekor terletak dibagian belakang dari papan. Kalau ekor ikan tidak simetris maka ujung yang diukur adalah ujung yang terpanjang (Aziz, 1989).
Konsekuensi terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup karena pengaruh variasi komposisi makanan larva ikan di laut belum diamati sepenuhnya. Perbedaan kandungan nutrisi dan dapat tidaknya suatu mangsa dicerna mungkin penting, sebagai contoh mollusca yang mempunyai cangkang dari bahan kalsium dan diketahui dapat melewati usus larva ikan herring tanpa dicerna (Bhattacharyya, 1957). 
Menurut Kimball (1994), menyatakan bahwa dalam pertumbuhan suatu organisme, yang biasanya dapat dibedakan menjadi beberapa periode.  Periode pertama yaitu periode lamban adalah ciri adanya sedikit pertumbuhan atau tidak ada pertumbuhan yang sebenarnya dan dalam periode ini organisme mempersiapkan diri untuk pertumbuhan. Periode lamban diikuti oleh periode logaritma atau periode eksponen.
3      Menurut Nontji (1999), menyatakan bahwa berat dapat kita sebut sebagai suatu fungsi dari panjang, dan hubungan panjang dengan berat hampir mengikuti hukum kubik yang menjelaskan bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya.  Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan terdapat perbedaan.

2.7 Fekunditas
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1978)
Menurut William (dalam Jones, 1978) fekunditas sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air. Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air sungai selalu tinggi, fekunditas ikan tinggi pula, bila dibandingkan dengan tahun lain yang permkaan airnya rendah. Kejadian yang sama dapat terjadi pula untuk ikan-ikan yang hidup di rawa, karena sering pula permukaan air rawa dari tahun ke tahun tidak sama sebagai akibat pemasukan air yang tidak tetap (Effendie, 1978)
Umumnya fekunditas realtif lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif maksimal dijumpai pula pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky dalam Effendie, 1978). Selanjutnya Effendie (1978) mengemukakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mengetahui harus menggunakan fekunditas pipulasi relatif. Fekunditas ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang memijah tiap-tiap tahun.
Untuk menghitung telur ada beberapa metoda yang dapat digunakan. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk memilih metoda dalam menghitung nilai fekunditas ikan harus dikenali dengan baik sifat dari setiap spesies ikan yang diteliti agar pada pelaksanaan menghitung nilai fekunditas ikan tidak terjadi kesalahan (Pulungan, 2005).
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative yang lebih kecil. Umumnya fekunditas relative lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky,1969)
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur – telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1979).
























BAB III
Metode Kerja
3.1  Alat Dan Bahan
3.1.1        Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum dapat dilihat ditabel dibawah ini.
Tabel 1. Alat praktikum
No
Alat
Fungsi
1
Tampah
Tempat pengambilan sampel populasi
2
Gelas
Wadah pengambilan sampel
3
Penggaris
Mengukur panjang tubuh ikan
4
Timbangan elektronik
Mengukur berat gonad ikan dan mengulur berat ikan
5
Gelas ukur
Tempat pengukuran volume air
6
Gunting bedah
Membedah tubuh ikan
7
Pipet
Mengambil telur ikan
8
Bekkerglass
Tempat mengaduk gonad
9
Cawan petri
Tempat menempatkan gonad
10
Pengaduk
Untuk mengaduk gonad
11
Alat tulis
Mencatat hasil praktikum
12
Telenan
Alas memotong kantong telur
13
Gunring
Memotong telur
14
Lup
Menghitung telur ikan


3.1.2        Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Bahan praktikum
No
Bahan
Fungsi
1
Biji jagung
Bahan pengukuran populasi
2
Biji kacang
Bahan pengukuran populasi
3
Ikan layang
Ikan uji pengukuran berat dan panjang
4
Ikan mujair
Ikan uji pengukuran fekunditas telur
5
Air
Pengenceran telur ikan

3.2  Prosedur Kerja
3.2.1        Pengukuran Pendugaan Populasi (Metode Petterson-Sensus Ganda)
Pendugaan populasi dengan cara simulasi menggunakan biji jagung sebagai ikan dan biji kacang tanah sebagi ikan yang sudah diberi tanda.Langkah-langkah pendugaan populasi dengan cara simulasi:
1.             Biji jagung disebar merata kedalam tampah.
2.             Kemudian menggunakan gelas ukur/mangkuk yang digunakan sebagai jaring diletakkan di sembarang tempat dengan tidak melihat dan lakukan pengambilan pengambilan sampel secara acak.
3.             Biji jagung yang tertangkap diambil, dihitung (C) kemudian setelah di hitung biji jagung tersebut diganti dengan biji kacang sebagai tanda ikan sudah diberi tanda (M).
4.             Biji kedelai tersebut dimasukkan kembali kedalam tampah secara merata.
5.             Kemudian dilakukan sampling sebanyak 8 kali, dan langkahnya berulang-ulang seperti diatas.

3.2.2        Hubungan Berat Dan Panjang
Hubungan berat dan panjang ikan merupakan cara pengontrolan pertumbuhan ikan, sesuai atau tidaknya berat dan panjang ikan.Menggunkan ikan layang sebagai objek praktikum, langkah-langkahnya :
1.      Ikan layang sebanyak 50 ekor ditimbang, kemudian langsung diukur panjangnya agar datanya tidak tertukar.pengukuran dilakukan dengan menggunakan penggaris, pengukuran dilakukan dengan mengukur tubuh ikan dari mulut hingga ujung ekor.
2.      –pengukuran  dilakukan berulang-ulang sampai ikan habis dan datanya terkumpul.
3.      - Setelah data terkumpul dilakukan perhitungan dengan rumus.

3.2.3        Fekunditas
Fekunditas adalah tingkat kematangan gonad. Menggunakan ikan mujair sebagai objek praktikum. Cara mendapatkan telur dengan cara pembedahan, ada beberapa cara menghitung telur ada 3 cara yaitu
a.    Cara menjumlah langsung ( telur ukuran besar/ bisa dilihat dengan kasat mata.
b.    Cara volumetric.
c.     Gabungan dari penjumlahan langsung dan volumetric.
*      Langkah- langkah Perhitungan Volumetric.
1.    Ikan dibedah terlebih dahulu untuk mendapatkan kantong telur atau gonad.
2.    Kantong telur diangkat dan diangin-anginkan dan menggunakan kertas saring sebagai wadah.
3.    Ukur volume gonad menggunakan gelas ukur.
4.    Kantong gonad dibuka kemudian diambil sampling sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata.
*      Perhitungan Cara Gabungan.
1.    Setelah diangin-anginkan, gonad ditimbang.
2.    Setalah telur ditimbang, mengambil sampling 3 kali, ditimbang.
3.    Kemudian diencerkan dengan 100 cc air.
4.    Ambil sampling 1 cc, di teteskan ke kaca preparat, dihitung jumlahnya menggunakan kaca pembesar.











BAB IV
Hasil Dan Pembahasan

4.1              Pendugaan Populasi
Hasil perolehan datan pada pendugaan popalasi dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Data pendugaan populasi
No sampling
Jumlah tangkapan (C)
Jumlah ikan bertanda (M)
Bertanda tertangkap (R)
C x M
1
21
0
0
0
2
20
21
6
420
3
13
35
3
455
4
14
45
3
630
5
16
56
7
890
6
16
65
8
1.040
7
21
73
7
1.533
8
24
87
10
2.088

C= 145
M= 381
R=44
CxM= 7.066



Penghitungan:
N = C.M
R
= 7.066
   44
= 160,6 ekor
Dari hasil simulasi praktikum tentang pendugaan populasi diketahui bahwa jumlah ikan yang tertangkap berjumlah 160 ekor.
4.2  Hubungan Berat Dan Panjang
No
W
L
Log L
Log W
LogL.LogW
(Log L)2
1.       
67.7
18
1,27
1,83
2,3241
1,6129
2.       
51.7
17
1,25
1,71
2,1375
1,5625
3.       
66.6
17.5
1,3
1,82
2,366
1,69
4.       
65.1
17.2
1,27
1,81
2,2987
1,6129
5.       
75.6
17.3
1,3
1,87
2,431
1,69
6.       
78.1
17
1,3
1,85
2,405
1,69
7.       
62.9
16.5
1,27
1,79
2,2733
1,6129
8.       
71.5
17.8
1,27
1,85
2,3495
1,6129
9.       
59.2
17
1,25
1,77
2,2125
1,5625
10.   
61.7
16
1,25
1,79
2,2375
1,5625
11.   
68.2
16.3
1,27
1,83
2,3241
1,6129
12.   
64.1
16.8
1,27
1,8
2,286
1,6129
13.   
59.7
16.5
1,25
1,77
2,2125
1,5625
14.   
55.9
16.7
1,23
1,74
2,1402
1,5129
15.   
64.9
17
1,25
1,81
2,2625
1,5625
16.   
72.8
16.9
1,27
1,86
2,3622
1,6129
17.   
52.3
19
1,23
1,71
2,1033
1,5129
18.   
78.9
17
1,27
1,89
2,4003
1,6129
19.   
71.6
16.5
1,27
1,85
2,3495
1,6129
20.   
64.5
17.8
1,27
1,8
2,286
1,6129
21.   
66,6
19
1,28
1,82
2,3296
1,6384
22.   
66,3
17.5
1,24
1,82
2,2568
1,5376
23.   
52,1
17.5
1,24
1,72
2,1328
1,5376
24.   
74
16.7
1,22
1,87
2,2814
1,4884
25.   
76,4
20
1,3
1,88
2,444
1,69
26.   
54,8
17.4
1,24
1,74
2,1576
1,5376
27.   
63,6
16.5
1,22
1,8
2,196
1,4884
28.   
72,3
17
1,27
1,86
2,3622
1,6129
29.   
65,9
18.7
1,27
1,82
2,3114
1,6129
30.   
72,1
16.1
1,21
1,86
2,2506
1,4641
31.   
67,5
16.4
1,3
1,82
2,366
1,69
32.   
65,2
17
1,27
1,81
2,2987
1,6129
33.   
62,6
17.2
1,26
1,89
2,3814
1,5876
34.   
71,3
16.8
1,3
1,85
2,405
1,69
35.   
73,1
20
1,3
1,86
2,418
1,69
36.   
66,6
19
1,27
73,1
92,837
1,6129
37.   
64
19
1,26
1,8
2,268
1,5876
38.   
64,8
18
1,24
1,81
2,2444
1,5376
39.   
62,7
17,5
1,27
1,79
2,2733
1,6129
40.   
62,9
19
1,27
1,79
2,2733
1,6129
41.   
64,1
19
1,27
1,8
2,286
1,6129
42.   
68,01
19
1,26
1,83
2,3058
1,5876
43.   
60,3
18
1,27
1,78
2,2606
1,6129
44.   
62,1
19
1,27
1,79
2,2733
1,6129
45.   
68,3
19
1,27
1,83
2,3241
1,6129
46.   
64,6
19
1,27
1,81
2,2987
1,6129
47.   
67,4
19
1,27
1,82
2,3114
1,6129
48.   
62,4
19
1,27
1,79
2,2733
1,6129
49.   
68,6
19
1,27
1,83
2,3241
1,6129
50.   
65,3
19
1,27
1,84
2,3368
1,6129
Jumlah total
63,23
161,98
205,243
79,9833
Rata - rata
1,2646
3,2396
4,10487
1,59967


Log a=169,98 . 3998.0363,23. (63,23x 161,98)
50 x (63,23)279,983
= 679585,63-647673,33
                 199821,6567

=0,016
= 169,98 – (50 x 0,016)
63,23
= 2,68


Log W = log a + b Log L
= 0,016  + 2,68 . 63,23
= 169,46
Grafik Hubungan berat dan panjang Ikan Layang, sebagai berikut :
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, ikan Tongkol yang diukur panjang dan berat tubuhnya, memiliki ukuran yang berbeda-beda antara ikan yang satu dengan ikan yang lainnya. Adapun ukuran ikan yang terpanjang adalah  20 cm, dengan beratnya adalah  76,4 gr.
Perbedaan ukuran berat dan panjang antara tiap ikan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang telah dikemukakan oleh Fujaya (1999), dimana ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam ini sulit untuk dilakukan pengontrolan, sedangkan faktor luar mudah untuk pengontrolannya.

Adapun yang termasuk faktor dalam tersebut adalah faktor keturunan, dimana faktor ini mungkin dapat dikontrol dalam suatu kultur, salah satunya dengan mengadakan seleksi yang baik bagi pertumbuhannya sebagai induk. Kemudian faktor jenis kelamin, kemugnkinan tercapainya keatangan gonad untk pertama kali cenderung mempengaruhi pertumbuhan, yang menjadi lambat karena sebagian makanan tertuju pada perkembangan gonad tersebut.
Untuk faktor umur, pertumbuhan cepat terjadi pada ikan yang masih muda, sedangkan ikan yang sudah tua umumnya kekurangan makanan apalagi untuk pertumbuhannya, karena sebagian besar digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan pergerakan. Terakhir faktor parasit dan penyakit dapat mempengaruhi pertumbuhan jika alat pencernaan atau organ vital lainnya terserang, sehingga efisiensi makanan yang berguna bagi pertmbuhan berkurang. Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah makanan, dalam hal ini makanan adalah faktor yang paling penting karena dengan adanya makanan berlebih dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lebih pesat. Faktor luar lainnya yang mempengaruhi yaitu kualitas air, misalnya suhu, oksigen terlarut dan karbondioksida.

4.3  Fekunditas
No  telur
Berat gonad (G)
Volume pengenceran
(V)
Jumlah telur/cc (X)
Berat telur sampling (Q)
Fekunditas (F)
1
18,25
100
59
6,056
17.779
2
18,25
100
78
6,03
23.606
3
18,25
100
56
6,07
16.836


18,25.100.56
6,07
= 16.836

 
Penghitungan :
=.18,25 .100 . 59
6,056
819
0.41

= 17.779
= 18,25.100.78
     6,03
= 23.606

Fekunditas dapat diartikan seluruh jumlah telur yang dikeluarkan pada saat ikan memijah. Tetapi karena spesies ikan yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya masing-masing, maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Misalnya kesulitan yang timbul dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang heterogen, tingkat kematangan gonad yang tidak seragam dari populasi ikan termaksud, waktu pemijahan yang berbeda dan lain-lainnya. Bagenal (1978) membedakan antara fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan dengan fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk.
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa rata-rata fekunditas ikan mujair  adalah 16.836, 17.779, dan 23.606. dari ketiga perhitungan telur ikan fekunditas tertinggi adalh 23.606 dengan jumlah telur per 1 cc adalah 78 butir.


BAB V
Simpulan Dan Saran

5.1  Simpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Dalam pendugaan populasi denga  metode Patterson-metode sensus ganda) didapatkan bahwa populasi ikan yang tertangkap berjumlah
2.      Peda pengukuran berat dan panjang ikan tongkol, didapatkan ukuran panjang dan berat ikan yang berbeda-beda.
3.      Perbedaan berat dan panjang ikan tongkol dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Factor internal, umur, dan gen. Faktor eksternal yang mempengaruhi diataranya adalah makanan dan kualitas air.
4.      Fekunditas ikan didapat adalah 17.79 , 16.836, dan 23,606.
5.      Pada pengukuran berat dan panjang nilai Log a= 0.016,  b= 2,68 dan Log W= 169,46
5.2  Saran
Saran untuk praktikum biologi adalah :
1.      Persiapan alat dan bahan sebelum praktikan dating sehingga ketika praktikan dating semua alat dan bahan telah siap.
2.      Jumlah alat dan bahan sesuaikan dengan jumlah kelompok.
3.      Jenis ikan lebih diperbanyak dan praktikum ditambah agar pengetahuan mahasiswa lebih banyak.








Daftar Pustaka


Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2012. Laporan Praktikum Biologi Perikananhttp://makalah-makalahperikanan.blogspot.com/2011/01/laporan-praktikum-biologi-perikanan.html
Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2012. Laporan Praktikum Biologi Perikananhttp://pengingratis.blogspot.com/2011/01/laporan-praktikum-biologi-perikanan.html
Anonim. 2010. Diakses 1 Januari 2012. Histologi Ikan Layang. http://tyodaps.blogspot.com/2010/04/histologi-ikan-layang.html
Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2012. Biologi Ikan Layanghttp://perikanan-hangtuah.blogspot.com/2011/04/biologi-ikan-layang.html
Arisandi Ade. 2012. Diakses 1 Januari 2012. Ikan Mujairhttp://adearisandi.wordpress.com/2012/10/31/ikan-mujair/
Anonim.  2009. Diakses 1 Januari 2012. Ikan Mujair http://hobiikan.blogspot.com/2009/10/ikan-mujair.html
Ghazali, Luluk.2010. Diakses 1 Januari 2012. Laporan Praktikum Biologi Perikananhttp://lulukalghazali.blogspot.com/2010/11/laporan-praktikum-biologi-perikanan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar