Kamis, 14 Februari 2013

laporan praktikum ikan hias cupang


LAPORAN  PRAKTIKUM
Manajemen Ikan Hias
Pemijahan Ikan Cupang


Disusun oleh :
NINDA RIZKIYANI      ( 1005560321)






PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2012

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan mata kuliah Manajemen Ikan Hias. Laporan ini di susun dalam rangka memenuhi Nilai praktikum mata kuliah tersebut.
Dalam menyusun laporan  ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu Tri Yusufi Mardiana, S.Pi, M.Si selaku dosen mata kuliah Manajemen Ikan Hias.
2. Orang tua tercinta yang selalu mendukung, mendoakan dan memberikan bantuan baik moril maupun materil.
4.  Seluruh teman – teman yang telah banyak membantu penulis.
5. Serta semua pihak yang telah membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya laporan ini. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Pekalongan, Januari 2013


                                                                                                            Penulis

Daftar Isi

Halaman Sampul ............................................................................................................i
Kata Pengantar ..............................................................................................................ii
Daftar Isi ......................................................................................................................iii
Daftar Tabel ..................................................................................................................v
BAB I Pendahuluan ......................................................................................................1
1.1  Latar Belakang ............................................................................................1
1.2  Tujuan .........................................................................................................2
1.3  Waktu dan tempat .......................................................................................2
BAB II Tinjauan Pustaka ..............................................................................................3
2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Cupang (Betta Splendens) .......................3
            2.2 Jenis-Jenis ikan cupang  ..............................................................................4
2.2.1Cupang Plakat ......................................................................................5
                 2.2.2 Halfmoon..............................................................................................5
                 2.2.3 Serit/Crowntail....... .............................................................................5
                 2.2.4 Double Tail...........................................................................................6
                 2.2.5 Giant (Cupang Raksasa) ......................................................................6
2.3 Induk Ikan cupang .......................................................................................7
2.4 Pemijahan Ikan cupang ...............................................................................7
2.5 Perkembangan Telur....................................................................................9
2.6 Pakan Induk Dan Larva ............................................................................10
2.7 Manajemen Kualitas Air ...........................................................................10
2.8 Pengendalian Hama Dan Penyakit ............................................................11
BAB III Metode Kerja.................................................................................................13
            3.1 Bahan dan alat ...........................................................................................13
                 3.1.1 Bahan .................................................................................................13
                 3.1.2 Alat ....................................................................................................14
            3.2 Prosedur Kerja...........................................................................................15
                 3.2.1 Pemilihan Dan Pemeliharaan Induk ..................................................15
                 3.2.2 Pemijahan Induk.................................................................................15
                 3.2.3 Pemeliharaan Telur Dan Larva .........................................................16
BAB IV Hasil Dan Pembahasan .................................................................................17
            4.1 Pemilihan Dan Pemeliharaan Induk...........................................................17
            4.2  Pemijahan Induk Cupang..........................................................................19
            4.3 Pemeliharaan Telur Dan Larva..................................................................24
BAB V Simpulan Dan Saran ......................................................................................25
            5.1 Simpulan ...................................................................................................25
            5.2 Saran .........................................................................................................25
Daftar Pustaka .............................................................................................................26
















Daftar Tabel
1.      Tabel 1.  Bahan Praktikum..............................................................................13
2.      Tabel 2. alat-alat Praktikum.............................................................................14
3.      Tabel 3. Data Lama Memijah dan Jumlah Telur yang dikeluarkan.................21




 BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik. Salah satu yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut adalah dengan usaha budidaya (aquakultur). Usaha budidaya akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang banyak diminati oleh masyarakat, karena memiliki potensi yang cukup besar. Untuk mewujudkan adanya usaha budidaya dengan produksi yang tinggi tentunya tergantung pada beberapa faktor, salah satunya adalah faktor jenis pakan yang diberikan.
Ikan Betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Sebagai ikan hias yang gemar berantem, mempunyai penampilan yang menarik yaitu mempunyai sirip yang relatif panjang dengan spektrum warna yang bagus sedangkan pada ikan betta betina penampilannya kurang menarik, karena siripnya tidak panjang dan warnanya pun tidak cerah sehingga pada ikan betta, jenis kelamin jantan lebih tinggi dibanding jenis kelamin betina. Dengan dasarnya itulah diperlukan upaya memperbanyak produksi ikan Betta jantan, yang dapat dilakukan secara masal
Popularitas cupang sebagai ikan hias tidak perlu di ragukan lagi. Penggemar ikan cupang bukan hanya untuk anak-anak, namun juga bapak-bapak dan para remaja. Sedikit berbeda dengan ikan hias lain, cupang di sukai bukan hanya karena kecantikannya, namun juga karena naluri berkelahinya. Debut cupang sebagai ikan aduan memang bukan berita baru. Di Negara asalnya, ikan ini terkenal sejak ratusan tahun yang lalu sebagai ikan laga. Di sana orang mengadu cupang sambil bertaruh uang. Berbeda dengan Sumatera (Barbus tetrazone) yang sekalipun agresif, namun bisa hidup berdampingan secara damai dengan sesamanya. Ikan cupang justru akan menunjukkan sifat agresifnya bila bertemu sesama jantan, sebaliknya cupang jantan akan diam atau bergerak lambat dan dekat-dekat apabila di campurkan dengan jenis ikan lain (Susanto, 1992).

1.2 Tujuan 
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa dapat menguasai teknologi pembenihan salah satu jenis ikan hias.
2. Mengetahui cara pemijahan ikan cupang.
3. Mahasiswa dapat memehami cara perawatan burayak cupang hingga dewasa.
4. Mahasiswa dapat mengetahu manajemen pemeliharaan ikan cupang, dari manajemen kualitas air, manajemen induk, dan manajemen pakan.

1.3 Waktu dan Tempat
Waktu : 29 November 2012 – Januari 2013
Tempat : Laboratorium Basah Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan














BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Cupang (Betta splendens)
Menurut Susanto (1992), adapun identifikasi dan klasifikasi dari ikan cupang(Betta splendes) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Craeniata
Class : Osteichthyes
Subclass : Actinopterygii
Super Ordo : Teleostei
Ordo : Percomorphoidei
Subordo : Anabantoidei
Famili : Anabantidae
Genus : Betta
Spesies : Betta splendens







Gambar 1. Ikan Cupang Plakat (Betta splendens)

Menurut Sudrajad (1989), ciri khusus ikan cupang (Betta splendens) dapat dilihat dari beberapa bentuk tubuhnya seperti bentuk badan memanjang dan warna yang beraneka ragam yakni cokelat, hijau, merah, biru, kuning, abu-abu, putih dan sebagainya, sirip punggung lebar dan terentang hingga ke belakang dengan warna cokelat kemerah-merahan dan dihiasi garis-garis berwarna-warni, sirip ekor berbentuk agak bulat dan berwarna seperti badannya serta dihiasi strip berwarna hijau, sirip perut panjang mengumbai dihiasi aneka warna dan lehernya berdasi dengan warna yang indah, ujung siripnya sering kali dihiasi warna putih susu, sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan dan memanjang. Lebih lanjut dikemukakannya adalah ikan cupang betina memiliki bentuk tubuh rata - rata lebih kecil daripada ikan cupang jantan. Ikan cupang jantan memiliki panjang tubuh dapat mencapai 5 – 9 cm, sedangkan ikan cupang betina lebih pendek dari ukuran tersebut.
Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga di juluki “fighting fish”, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar 28o C. Pertumbuhan ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama (Perkasa, 2001)

2.2 Jenis-jenis Ikan Cupang
2.2.1 Cupang Plakat 
Ikan cupang plakat adalah ikan cupang hias dengan bentuk ekor yang lebih pendek atau biasa disebut ikan ekor pendek. Cupang plakat berasal dariThailand yang pertama kali mengembangbiakannya. KataPlakat merupakan bahasa Thai yang berarti cupang laga atau cupang aduan. Cupang plakat memang sebenarnya merupakan ikan cupang aduan atau laga yang berasal dari cupang alam. Kata plakat untuk membedakan antara ikan cupang hias dengan cupang aduan untuk lebih familiar di kalangan internasional. Kecantikan ikan cupang plakat ini terlihat pada bentuk sirip, gigi yang tajam, keindahan & kerasnya sisik ikan maupun gaya bertarungnya.







Gambar 2. Ikan Cupang jenis plakat
2.2.2 Halfmoon
Cupang jenis ini memiliki ciri khusus yaitu ekornya yang lebar seperti kipas dan kibatannya mencapai 180 derajat. hingga seperti busur. 
Cupang ini yang mendatangkan banyak rejeki. Baik warna, sirip dan ekornya sangat memikat. Half moon adalah cupang asal Thailand. Kurun waktu sepuluh tahun ke belakang ikan ini merambah pasaran Indonesia. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Biasanya ikan jenis sering menjadi ajang kontes.







Gambar 3. Halfmoon
2.2.3 Serit/Crowntail
Jenis ini memiliki ciri husus berupa jeruji di ekornya. jenis cupang ini masih terbagi menjadi 4 bagian yaitu serit 1 berjeruji 1, serit 2 berjeruji 2, serit 3 berjeruji 3, dan serit 4 berjeruji 4.








Gambar 4. Serit
2.2.4 Double tail
Maksudnya jenis ikan cupang ini memiliki ekor yang bercabang menjadi 2 bagian.






    Gambar 5. Double tail
2.2.5 Giant (cupang raksasa)
Cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm







      Gambar 6. Giant 

2.3 Induk Ikan Cupang 
Ciri ikan cupang jantan matang gonad adalah munculnya bintik bintik hitam yang terdapat di sirip punggung jantan, pada tutup insangnyapun sudah ada garis vertikal warna kemerahan, terlihat sibuk dalam mempersiapkan buih – buih dipermukaan sebagai sarang tempat penetasan telur. Umur cupang yang siap untuk melakukan pemijahan yaitu sekitar 6 – 7 bulan dengan panjang 5 – 6 cm. induk harus sehat, tidak cacat dan tidak berpenyakit. Sedangkan pada betina , ciri-ciri kematangan gonad dilihat dari besarnya perut betina dan Pada sisi tubuhnya terdapat 2-3 garis vertikal berwarna kelabu (Huda, 1992).
Untuk induk betina bentuk badan harus terlihat sehat, di tandai dengan bentuk tubuh bagian perut yang membesar apabila di teliti akan terlihat ada telurnya, bukan membesar karena di beri makanan dan pergerakannya terlihat lambat. Mempunyai sirip ekor, anal dan panggung yang biasa tanpa ada penonjolan jari-jari siripnya (Lingga dan Susanto, 2003).
Ikan cupang merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin. Dengan bantuan alat tersebut, ikan cupang dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Dengan demikian dalam pemeliharaan ikan cupang, aerasi tidak harus dipasang sehingga dapat menghemat penggunaan listrik dan sarana sistem aerasi (Susanto, 1992).

2.4 Pemijahan Ikn Cupang
Umumnya ikan cupang termasuk kelompok ikan yang membuat gelembung udara pada saat ingin kawin. Untuk itu diperlukan tanaman air agar cupang dapat menempelkan gelembung udaranya. Tanaman ini dapat berupa tanaman air yang berdaun lebar seperti eceng gondok (Eihornia crassipes) dan kiambang (Pistia stratiotes).  Setelah itu cupang dapat dimasukkan ke dalam bak pemijahan. Bila memang sudah siap kawin, cupang jantan akan segera menempelkan gelembung udara ke daun. Cupang betina dapat dimasukkan apabila gelembung udara sudah cukup banyak. Cupang jantan yang sedang mencari pasangan akan segera menghampiri betina. Lalu betina akan diajak untuk mendekati gelembung udara, dipeluk sehingga keduanya menempel dan tak bergerak. Beberapa saat kemudian, telur keluar dari tubuh betina dan segera dibuahi oleh induk jantan. Telur – telur tersebut ditangkap oleh mulut cupang jantan, lalu ditempelkan di gelembung udara. Penempelan dilakukan dengan cara menyemburkan telur tersebut dari mulutnya (Perkasa, 2001).
Pemijahan di mulai dengan wadah dan air yang sudah siap, lalu kita masukan daun ketapang. Biarkan daun ini mengapung, tujuannya untuk tempat menempelkan busa dan tempat telur ikan. Setelah itu masukan induk jantan, waktu pemasukan induk jantan kedalam wadah pemijahan sebaiknya pagi hari, karena suhu air masih dingin. Biarkan induk jantan selama 1 hari gunanya untuk induk jantan mengenal lingkungannya.Keesokan harinya, masukan toples induk betina kedalam wadah pemijahan tujuannya untuk saling mengenal dulu dan untuk memasukan toples induk betina juga sebaiknya pagi hari dan diamkan selama 1 hari. Ini berguna untuk melihat apakah induk jantan memang benar benar siap untuk memijah (Sitanggang, 2010).
Menurut Lingga dan Susanto (2003), bila induk jantan memang siap memijah, maka esok hari kita akan melihat busa yang sudah di buat oleh induk jantan. Semakin banyak busa yang di buat menunjukan memang induk jantan sudah siap, ketika itu barulah kita melepas induk betina kedalam wadah. Pelepasan induk betina sebaiknya pada pagi hari, apabila kedua induk memang siap dan baik, maka keesokan hari atau paling lambat 2 hari setelah pemijahan kita akan menemukan busa yang di buat induk jantan sudah berisi telur ikan. Apabila telur ikan sudah banyak sebaiknya induk betina segera di angkat supaya induk betina tidak memakan telurnya, sedangkan induk jantan masih kita biarkan untuk mengeram dan memelihara telurnya.



2.5 Perkembangan Telur 
Setelah telur ikan terlihat, maka dalam jangka waktu 24 jam telur akan menetas menjadi burayak. Selama 1 minggu burayak masih tidak membutuhkan makanan, karena mereka masih memiliki persedian makanan di tubuhnya dan pada hari ketiga ketika persediaan makanan sudah habis, maka peranan induk jantan sangat vital karena induk jantan yang memberikan makanan kepada burayak ini dengan cara di masukan kedalam mulutnya, lalu setelah beberapa saat induk jantan akan memuntahkan kembali burayak itu keluar. Selama 1 minggu kita harus teratur memberikan makanan berupa cuk (jentik nyamuk) kepada induk jantan, gunanya agar induk jantan mempunyai persediaan makanan untuk burayak tersebut, bisa juga di berikan pelet khusus untuk ikan cupang (Sitanggang, 2010).
Menurut Huda (2011), hari ke 5 setelah burayak menetas sudah bisa di lihat perkembangannya, untuk itu harus di bantu dengan cara memberikan kuning telur yang sudah matang lalu di keringkan dan setelah kering di berikan kepada burayak dan pada hari ke 6 kita sudah bisa memberikan kutu air yang di saring kedalam wadah ini, karena beberapa burayak sudah cukup besar dan dapat memakan kutu air yang di saring. Hari ke 8 induk jantan sudah bisa di angkat dan di pisahkan kedalam toples tersendiri.
Sedangkan burayak yang berumur 8 hari cukup kita beri makan kutu air yang di saring, sampai berumur 1 bulan dan apabila pertumbuhannya pesat bisa di berikan anak cuk (jentik nyamuk) dan cacing sutra secara terbatas serta apabila perkembangan kurang pesat maka makanannya harus tetap kutu air.
Setelah umur 1 bulan burayak sudah dapat di pindahkan kedalam wadah yang lebih besar supaya perkembangganya lebih pesat dari segi makanan sudah bisa di kombinasi antara kutu air, cuk, cacing sutra dan pelet. Setelah burayak berumur 2 - 2,5 bulan, maka sudah dapat di pisahkan dan di pilah mana yang jantan dan betina. Untuk jantan harus di beri wadah tersendiri dan untuk betina masih bisa di campur sesama betina, apabila setelah di seleksi ternyata cupang betina yang dominan maka dapat kita simpulkan salah satu dari induk tersebut kurang baik kualitasnya. Sebaiknya induk betina itu tidak di pijahkan kembali. Apabila baik, maka induk jantan sudah dapat di pijahkan kembali 3 minggu setelah di angkat dari tempat pemijahan (Huda, 2011).

2.6 Pakan Induk Dan Larva
Meskipun cupang dewasa mau menerima makanan kering dan mati, namun untuk memperoleh pertumbuhan maksimal dan warna yang cantik sebaiknya ikan-ikan cupang ini hanya di beri makanan hidup. Makanan hidup seperti cacing sutera, jentik-jentik nyamuk dan kutu air sangat di sukai oleh ikan-ikan cupang (Iskandar, 2004).
Menurut Perkasa (2001), bahan pakan alami bagi cupang hias di peroleh dari alam. Bahan pakan tersebut di berikan dalam keadaan hidup tanpa melalui proses terlebih dahulu. Memperoleh pakan alami tidak sulit dan relatif murah. Sarana untuk mendapatkan pakan alami hanya dengan alat sederhana.

2.7 Manajemen Kulalitas Air 
Faktor penting dalam budidaya ikan cupang adalah kualitas air yang digunakan dalam budidaya. Kualitas air harus selalu terjaga kebersihannya dan terhindar dari zat-zat beracun, seperti amoniak, limbah pabrik, detergen, dan lain-lain. Ikan akan tumbuh optimal jika kualitas airnya baik. Air pada akuarium atau pada wadah pematangan gonad sebaiknya diganti setiap 3 hari, serta ikan cupang direndam selama 1 jam dengan air yang telah dicampur garam dapur dan obat khusus cupang yang banyak dijual di pasar ikan dengan dosis secukupnya. Hal tersebut untuk menjaga ikan cupang dari serangan jamur atau penyakit lainnya (Indriani dkk, 1991)
Cara lain unntk menjaga kualitas air tetap baik adalah dengan cara memasukan eceng gondok dalam kolam pembesaran, yang berfungsi untuk menyerap racun di sekitar air tersebut dan sekaligus menjadi tempat berteduh bagi burayak/benih cupang. Jangan terlalu banyak memberikan eceng gondok karena eceng gondok dapat menyerap oksigen di dalam air. Eceng gondok yang terlalu banyak dapat menyebabkan kematian bagi burayak karena kekurangan kadar oksigen di dalam air (Perkasa, 2001).

2.8 Pengendalian Hama Dan Penyakit
Menurut Kordi (2004), penyakit pada ikan cupang secara fisik banyak di sebabkan oleh microorganisme,cendawan, bakteri dan virus! yang di pengaruhi oleh sani tasi air, dimana tempat ikan cupang itu hidup, kurang higienis dan kurang di perhatikan, atau di sebabkan oleh faktor alam seperti perubahan iklim yang berpengaruh pada perubahan suhu air, sehingga mempengaruhi tumbuh kembangnya cendawan, bakteri,dan virus. Oleh sebab itu kualitas air untuk ikan cupang ini harus tetap dijaga. Penyakit fisik tersebut antara lain busung/sisik nanas, salak, atau hydrops, menceret atau berak putih disebkan oleh virus salmonella sp., valvet/fin rot, yang disebabkan oleh bakteri oodium pillularis, serta borok/ luka yang terinfeksi yang di sebabkan oleh kutu ikanargullus indicus dan lernea cyprinacea.
Penyakit pada ikan cupang  non fisik tidak disebabkan oleh microorganisme, tapi disebabkan oleh kurang hati-hati dalam perawatan ikan cupang yang menyebabkan mental dan fisik ikan cupang menjadi sakit, dan cacat dan dapat berakibat menurunnya kesehatan ikan cupang tersebut, sirip kurang mengembang, kurang gairah, tidak nafsu makan,bacul (hilang keberanian/ mental) menggigit sirip sendiri, jelas terlihat tidak sehat(Kordi, 2004)
            Bila terserang white spot,cendawan/jamur gejala awalnya adalah berenang ikan cupang seperti tersentak-sentak atau menabrakan badannya ke media dinding aquarium /wadah, bila tidak cepat di tanggulangi badan ikan cupang akan cepat di tumbuhi bintik-bintik putih lebih kecil dari telur ikan. Hal ini bila sudah parah, bila tidak cepat di tanggulangi dapat menyebabkan ikan cupang malasberaktifitas,sirip tidak mengembang, dan menghilangkan nafsu makan dari ikan tersebut. Penanggulangan nya dapat dengan diberikan anti white spot, blitz-icth/fish mate yang mengandung bahan aktif metil biru (methiline blue) dan dimetil amino triphenyl methanol, super icth , blitz icth/obat biru/ anti white spot dilarutkan dengan air dan di campur garam ikan dengan dosis di sesuaikan dengan stadium penyakitnya. Dengan merendam ikan cupang yang sakit kedalam larutan tersebut diatas selama kurang lebih 5 jam, kemudian angkat dan rendam kembali kedalam larutan yang sama.























BAB III
Metode Kerja

3.1 Bahan Dan Alat
3.1.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum dapat dilihat dalam tabel 1
Tabel 1. Bahan Praktikum
No Nama Bahan Jumlah Kegunaan
1 Induk cupang jantan dan betina 6 Organisme yang di pelihara.
2 Air bersih Tak terbatas Sebagai sumber tempat ikan cupang hidup.
3 Jentik nyamuk Tak terbatas Sebagai sumber makanan bagi ikan cupang.
4 Cacing Beku Tak terbatas Sebagai sumber makanan bagi ikan cupang.
5 Daphnia/Kutu Air Tak terbatas Sebagai sumber makanan bagi larva cupang.
6 Daun Ketapang 3 Sebagai substrat pelekatan busa dan telur ikan cupang
7 Suspensi kuning telur rebus 1 Sebagai tambahan makanan untuk larva.






3.1.2 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum dapat dilihat paa tabel 2.
Tabel 2. Alat Praktikum
No Nama Alat Jumlah Kegunaan
1 Akuarium kecil 6 Sebagai tempat memelihara ikan.
2 Akuarium 40 x 20 x 20 cm 3 Sebagai tempat pemijahan 
3 Kamera Hp 1 Untuk mengambil gambar ikan cupang dan wadah pemeliharaan.
4 Ember 1 Sebagai tempat untuk menampung jentik-jentik nyamuk.
5 Seser 1 Untuk mengambil maupun memindahkan ikan, mengambil pakan ikan
6 Selang sipon 1 Untuk menyipon 
7 Busa / kain 1 Menyaring air
8 Sendok 1 Untuk mengambil pakan alami bagi induk/larva cupang
9 Gembes air 1 Wadah penampungan air
10 Gelas 1 Wadah suspensi kuning telur
11 Alat tulis menulis 1 Untuk menulis data.


3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Pemilihan dan Pemeliharan Induk
Cara kerja praktikum  pemilihan dan pemeliharaan induk adalah sebagai berikut:
1.     Siapkan wadah pemeliharaan induk berupa aquarium kecil.
2.     Pilihlah induk ikan cupang jantan dan betina yang telah matang gonad.
3.     Amati ciri-ciri morfologi induk yang di gunakan.
4.     Masukkan induk tersebut kedalam wadah pemeliharaan berupa aquarium.
5.     Peliharalah induk tersebut sampai siap di pijahkan.
6.     Selama pemeliharaan lakukan pergantian air minimal 3 hari sekali.
7.   Induk di beri makanan yang banyak mengandung protein seperti jentik nyamuk dua kali sehari (pagi dan sore) secara adlibitum. Cuci bersih pakan alami yang di peroleh dari alam sebelum di berikan kepada induk ikan.

3.2.2 Pemijahan Induk
Cara kerja praktikum  tentang Pemijahan induk adalah sebagai berikut :
1.    Siapkan wadah pemijahan induk berupa aquarium yg berukuran cukup besar (40x20x20)  dan isi dengan air + setinggi 15 cm.
2.    Masukkan induk jantan terlebih dahulu pada wadah pemijahan.
3.    Masukkan induk betina dalam wadah transparan (aquarium yg lebih kecil) dan letakkan di wadah berisi induk jantan.
4.    Setelah induk jantan telah membuat gelembung busa (1-2 hari setelah perkenalan), masukkan induk betina kedalam wadah pemijahan. Jika keduanya coccok, maka pemijahan akan segera berlangsung.
5.    Setelah pemijahan berakhir induk betina langsung di pindahkan sementara induk jantan di biarkan untuk menjaga telur-telurnya.



3.2.3 Pemeliharaan Telur dan Larva
Cara kerja praktikum  tentang Pemeliharaan Telur dan Larvaadalah sebagai berikut :
1.    Telur yang di pelihara harus menggunakan air yang bersih.
2.    Setelah menetas larva belum di berikan pakan sampai umur 3 hari karena masih menyimpan yolk sack (kuning telur).
3.    Setelah umur 4 - 8 hari cupang di beri pakan suspensi kuning telur ayam rebus. Larva bisa juga diberi makan kutu air.
4.  Air wadah pemeliharaan di sipon minimal 3 hari sekali dan jika belum terlalu kotor maksimal di ganti seminggu sekali. Pergantian air di lakukan sebanyak 30%.
5.    Minimal seminggu sekali lakukan pembersihan wadah pemeliharaan.

















BAB IV
Hasil Dan Pembahasan

4.1 Pemilihan Dan Pemeliharaan Induk
Berdasarkan hasil pengamatan dalam pemilihan dan pemeliharaan induk ikan cupang jantan dan betina yang digunakan telah berumur ± 4 bulan. Ciri lainnya pada induk ikan jantan , yaitu :  adanya gelembung udara di atas permukaan air di didalam wadah pemeliharaan, memiliki corak warna yang cerah dan indah, ukuran sirip – siripnya relatif panjang, bentuk tubuhnya ramping dan gerakannya agresif dan pada sirip ekornya lebih lebar dan panjang, Sedangkan ciri induk betina , yaitu : warna tubuhnya agak pudar/kurang menarik, ukuran sirip – siripnya pendek, bentuk tubuhnya gempal atau lebih besar, gerakannya lamban dan kulit perut terasa lembek dan terdapat titik putih, Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto (1992), cupang jantan memiliki kombinasi warna yang lebih menarik daripada ikan betina, ukuran tubuhnya lebih besar sedangkan ikan betina sebagai penghasil telur memiliki sirip yang pendek dan berwarna coklat kekuning-kuningan serta ukuran tubuhnya lebih kecil di bandingkan dengan ikan jantan.
Selama masa pemeliharaan induk diberi pakan alami berupa jentik nyamuk yang berasal dari perairan tergenang dan selokan-selokan  kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bambang (2001), pakan yang umum dimakan ikan cupang yaitu berupa jentik nyamuk yang diambil dari alam namun tidak dapat langsung diberikan kepada ikan dalam keadaan masih kotor, sering diantara jentik terdapat ulat berwarna kelabu hitam apabila ulat termakan oleh ikan maka ulat tersebut tidak mudah dicerna oleh perut ikan sehingga ikan dapat membuang kotoran dan perutnya membesar sehingga munculah penyakit perut kembung. selokan–selokan.

Gambar 7. Jentik nyamuk

Pergantian air di lakukan 3 hari sekali dengan membuang semua air lama bersama-sama dengan  kotoran yang mengendap di dasar wadah pemeliharaan induk. Hal ini sesuai dengan pendapat susanto (1992) bahwa pergantian air dilakukan dengan selang waktu 3 hari sekali dengan membuang air secara bersama-sama dengan kotoran ikan yang mengendap di dasar bak. Kotoran ini merupakan hasil buangan ikan, sisa makanan yang mati, kotoran dari makanan itu sendiri atau dari bahan-bahan lain.
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan cupang yaitu akuarium, serta kualitas air yang digunakan harus baik.wadah untuk pemeliharaan  induk ikan cupang jantan dan betina masing-masing satu buah akuarium







Gambar 8. Wadah Pemeliharaan induk cupang

4.2 Pemijahan Induk Cupang

Gambar 8. Sketsa wadah pemijahan ikan cupang (Betta Sp.)

Pada saat pelaksanaan praktikum mengenai Pemijahan, wadah yang digunakan untuk proses pemijahan ikan cupang adalah akuarium. Di dalam akuarium dimasukkan satu wadah lagi yang berukuran lebih kecil. Wadah yang dimasukkan ke dalam akuarium tersebut sebagai tempat untuk ikan cupang betina, sementara ikan cupang jantan dibiarkan berada dalam akuarium induk. Pemisahan induk jantan dan induk betina ini bertujuan untuk menghindari adanya serangan dari ikan cupang jantan terhadap betinanya. Oleh karena itu ikan cupang betina dimasukkan ke dalam wadah terpisah di dalam akuarium agar ikan jantan dan ikan betina saling beradaptasi dan saling mengenal.  Pada akuarium induk, diberi plastic/daun ketapang di permukaan air sebagai tempat ikan cupang jantan membuat sarang busa. Sarang busa ini digunakan ikan cupang jantan sebagai tempat menaruh telur-telur yang dikeluarkan oleh ikan cupang betina. Setelah sarang busa tersebut sudah cukup banyak, maka ikan betina dapat dilepaskan dan dibiarkan bersama ikan jantan. Sebelum melakukan pemijahan indukan dipisahkan terlebih dahulu untuk melakukan pematangan gunad, jika indukan sudah siap memijah (matang gonad), barulah dilakukan proses-proses pemijahan ikan cupang. Ciri induk yang sudah siap mepijah adalah pada penutup insang tampak warna merah atau hijau menyala dan ikan sudah membuat gelembung busa, sementara induk betina siap kawin dicirikan dari perutnya yang tampak besar, warna tubuhnya pucat dan tingka lakunya jinak.
Hasil praktikum budidaya ikan hias, mengenai pemijahan induk didapatkan, sebelum proses pemijhan berlangsung, dilakukan beberapa rekayasa lingkungan. Sehingga wadah pemijahan bisa mirip dengan media pemijahan dialamnya. Misalnya menyiapkan wadah pemijahan (akuarium) yang telah terisi air ± 15 liter air sebagai wadah induk ikan cupang jantan, memasukan aquarium kecil kedalam akuarium sebagai wadah untuk induk ikan cupang betina, Seperti gambar di atas (gambar 8) ikan jantan dan betina ditempatkan diwadah yang berbeda, ikan jantan ditempatkan didalam akuarium yang didalamnya terdapat gelas bening yang isi airnya lebih tinggi daripada air diakuarium yaitu wadah tempat ikan betina, hal ini bertujuan untuk perkenalan jenis indukan yang telah dipilih dan pada permukaan akuarium diletakkan daun ketapang  berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan. yang sebelumnya sudah ditempelkan gelembung busa oleh ikan jantan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Bambang (2002), ikan cupang termasuk kelompok ikan yang membuat gelembung pada saat akan memijah. Sehingga di dalam wadah pemijahan  perlu disediakan daun segar atau potongan kertas sebagai  tempat cupang jantan yang menempelkan gelembung busanya. 
Sebelum dilakukan pemijahan, hal yang harus dilakukan yaitu induk ikan jantan dan betina dijodohkan terlebih dahulu, berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan bahwa perjodohan ini berlangsung kurang lebih selama 24 jam yang diawali dengan mempertemukan kedua induk ikan cupang di akuarium, namun induk ikan cupang betina berada dalam aquarium yang telah diletakkan di dalam akuarium. Hal ini bertujuan agar induk ikan cupang dapat saling bertemu, mengenal, dan saling menarik perhatian.  Hal ini diperlihatkan oleh induk ikan cupang jantan yang melakukan aksi menarik perhatian induk betina dengan cara mengembangkan sirip-siripnya, dengan keindahan warna tubuhnya dan juga mendekati dan berputar-putar mengelilingi toples  sampai induk ikan betina cupang tertarik.







Gambar 9. Pengenalan jantan dan betina        Gambar 10. Busa Ikan Jantan

Berdasarkan hasil pengamatan, proses pemijahan pada induk ikan cupang berlangsung dari jam 10.20 wib – 10.52 wib terjadi 20 x pemijahan dengan jumlah rata-rata telur untuk yang dikeluarkan setiap 1 x mijah adalah 19 butir telur. Dengan lama waktu nya adalah 12, 47 detik. Untuk lebih lanjut dapat dilihat di tabel 3. 
Tabel 3. Data Lama Memijah dan Jumlah Telur yang dikeluarkan
Jam Pemijahan ke Waktu Jumlah telur



10.20 – 10.52 1 - 19
2 - 13
3 - 26
4 - 12
5 - 13
6 - 13
7 - 21
8 8.09 detik -
9 14,62 detik -
10 - 9
11 - 32
12 - 12
13 - 22
14 - 28
15 - -
16 14,59 detik -
17 - -
18 14,52 detik -
19 - -
20 10.52 detik








Gambar 11. Proses pemijahan ikan cupang


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, bahwa ikan cupang melakukan pemijahan dengan cara berpelukan dibawah gelembung busa,ini dapat dilihat pada gambar 11, setelah berpelukan ikan betina menjatuhkan telurnya kedasar air akuarium dan ikan jantan mengumpulkan telur dan menempelkannya pada gelembung busa yang telah dikumpulkannya sebelumnya, pada saat ikan jantan mengumpulkan telurnya, ikan betina dikeluarkan dari akuarium, menjaga agar telur tidak dimakan oleh ikan betina. Menurut pernyataan Susanto (1992), ikan cupang akan saling berpelukan  di bawah sarang busa  yang sudah dibuatnya dan melayang-layang sampai beberapa saat kemudian keluar telurnya dan segera ditangkap oleh induk jantan untuk ditempatkan di dalam gelembung busa yang telah disiapkan. Setelah selesai memijah maka jantan akan menjaga telur-telurnya dan  mengusir pasangannnya jauh-jauh.











Gambar 12. Telur cupang  Gambar 13. Jantan memunguti telur

Proses pemijahan cupang diawali dengan sibuknya ikan jantan mengeluarkan buih busa dari mulutnya lalu diletakkan pada permukaan sebagai sarang telur. Setelah itu pejantan akan mencari betina yang siap untuk dijadikan pasangan. Setelah didapatkan pasangan yang cocok, maka betina akan mengeluarkan sel telur diikuti dengan pelepasan sel sperma oleh jantan lalu terjadilah fertilisasi eksternal. Telur yang sudah dibuahi akan dibawa oleh jantan menuju buih yang ada di permukaan.
Setelah pemijahan selesai, induk ikan jantan dipisahkan dari induk ikan betina agar induk betina tidak memakan telurnya sendiri.  Sementara induk ikan cupang jantan akan setia menjaga telurnya dari gangguan ikan lain. Selain itu, induk ikan cupang jantan akan mengipasi telur dengan sirip-siripnya agar suplai oksigen untuk telur tetap terjaga. Selama itu pula, induk jantan akan memperbaiki sarang busa yang rusak dengan membuat sarang baru.







4.3 Pemeliharaan Telur dan Larva

Gambar 14. Larva Ikan Cupang

Telur ikan cupang akan kurang lebih 24 jam setelah proses pemijahan. Pada proses pemijahan cupang jenis plakat larva yang menetas cukup banyak. Hingga sekarang berumur 3 minggu jumlah larva yang tersisa adalah 10 ekor. Dari 10 ekor 5 diataranya sudah berukuran cukup besar dan telah memiliki bentuk tubuh. Untuk pemijahan halfmoon, tidak dilakukan pergantian air maupun penyiponan akan tetapi jumlah larva yang masih hidup cukup banyak sekitar 25 ekor. 
Pemberian pakan larva dilakukan 2 x sehari pada jam 09.00 dan 17.00. pakan berupa kuning telur maupun daphnia yang sesuai dengan bukaan mulut ikan. 










BAB V
Simpulan Dan Saran

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah di uraikan, maka dapat di simpulkan bahwa :
1. Ikan cupang (Betta splendes) termasuk jenis ikan yang bersifat parental care yang dimana induk jantannya memelihara dan merawat telur-telurnya.
2. Selama 32 menit proses pemijahan terjadi 20 x pemijahan dan mengeluarkan telur sebanyak 19 butir untuk sekali pemijahan serta membutuhkan lama waktu pemijahan 12, 47 detik.
3. Larva plakat yang berumur 3 minggu hanya tersisa 10 ekor.
4. Larva halfmoon berjumlah 25 ekor. 

5.2 Saran
1. Sebagai praktikan saya menyarankan agar tempat praktikum lebih steril dan terkontrol. 
2. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya saling menjaga bukan saling menghancurkan dan menganggu praktikum kelompok lainnya.
3. Praktikumlah dengan jujur. 









Daftar Pustaka


Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Cara Budidaya Ikan Cupang Hias http://budidayanews.blogspot.com/2011/02/cara-budidaya-ikan-cupang-hias.html
Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013 . Betta Splendens http://aquariumfishparadise.com.au/2012/02/siamese-fighting-fish-betta-splendens/ 
Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Teknologi Budidaya Ikan Hias. http://taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidaya-ikan-hias-3/ 
Wibowo, Deo. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Cara singkat Merwat Ikan Cupang. www. Deo-Wibowo.blogspot.com
Anonim. 2011. Diakses 1 Januari 2013 . Jenis-Jenis Ikan Cupang. www.yakhanu.wordpress.com
Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013. Budidaya Ikan Cupang. http://icalizeter.blogspot.com/2012/06/budidaya-ikan-cupang.html
Anonim. 2012. Diakses 1 Januari 2013. Membudidayakan Ikan Cupang. http://www.ogasfarm.com/2012/04/membudidayakan-ikan-cupang.html



















2 komentar:

3.12 Melakukan persiapan wadah pemeliharaan larva komoditas perikanan di komoditas perikanan di bak, aquarium dan fiber glass

  Persiapan Wadah Bak, Aquarium dan Fiber Glass Pada kegiatan pembelajaran ini anda akan mempelajari sanitasi wadah pembe...