Minggu, 25 Oktober 2020

Perkembangan Embrio pada ikan dan Perkembangan Larva Ikan

 Perkembangan Embrio pada ikan

Perkembangan  embrio  pada  telur  ikan  terjadi  sejak  pembuahan  oleh sperma. Embrio adalah mahluk yang sedang berkembang sebelum mahluk tersebut  mencapai  bentuk  definitif  seperti bentuk  mahluk  dewasa.

Pada perkembangan  mahluk  hidup  dalam  proses  embriogeneses  terbagi menjadi tiga tahap yaitu :

1.  Progenase     : dimulai dari perkembangan sel kelamin sampai zygot
2.  Embriogenese  : Proses  perkembangan  zygot  pembelahan  zygot, blastulasi,  gastrulasi  dan neorolasi  sampai pembelahan zygot
3.  Organogenese  :  Proses  perkembangan  alat-alat  tubuh  seperti jantung, paru paru, ginjal, otak dan sebagainya.

Pembelahan  zygot  adalah  rangkaian  mitosis  yang  berlangsung  berturutturut  segera  setelah terjadi  pembuahan.  Pembelahan  zygot  berlangsung cepat  sehingga  sel  anak  tidak  sempat tumbuh,  sehingga  besar  sel  anak makin  lama  makin  kecil,  sesuai  dengan  tingkat  pembelahan. Akibatnya pembelahan menghasilkan kelompok sel anak yang disebut morula dan sel anak disebut blastomer.



Perkembangan telur sampai penetasan larva ikan bawal

Pembelahan  pertama  akan  membagi  blastodisk  menjadi  dua  bagian  yang selanjutnya masing masing bagian akan membelah lagi menjadi 4,8,16 dan 32 sel.  Pembelahan-pembelahan  sel  ini akan menghasilkan  blastoderm  yang makin  lama  makin  menebal.  Tahap  pembelahan  sel  berakhir dengan terbentuknya rongga blastocoel yang terletak antara blastoderm dan jaringan periblast yang menempel pada kuning telur.

 

Perkembangan Larva Ikan

Fase  larva  memiliki  perkembangan  anatomi  dan  morfologi  yang  lebih cepat  dibandingkan  dengan  ikan  yang  lebih  dewasa.  Sebagian  besar perkembangan larva ikan yang baru menetas adalah mulut belum terbuka, cadangan kuning telur dan butiran minyak masih sempurna dan larva yang baru menetas bersifat pasif.

Hari ke dua mulut mulai terbuka. Selanjutnya memasuki hari ke tiga, larva ikan mulai mencari makan, pada saat tersebut cadangan  kuning  telurnya  pun  telah  menipis  yaitu  tinggal  25  –  30%  dari volume awal.

Telur  ikan  yang  baru  menetas  dinamakan  larva,  tubuhnya  belum sempurna  baik  organ  luar  maupun  organ  dalamnya.  Larva  akan  terus berkembang  untuk  menyempurnakan  bentuk  dan  fungsi  dari  masingmasing  organ.  Perkembangan  larva  secara  garis  besar  dapat  dibagi menjadi dua tahap, yaitu :

Prolarva,  larva  yang  masih  memiliki  kuning  telur,  tubuhnya  transparent dengan beberpa butir pigmen yang fungsinya belum diketahui. Sirip dada dan  ekor  sudah  ada  tetapi  bentuknya  belum  sempurna.  Kebanyakan prolarva  yang  baru  keluar  dari  cangkangnya  tidak   memiliki  sirip  perut yang  nyata  melainkan  berupa  tonjolan  saja.  Mulut  dan  rahang  belum berkembang  dan  ususnya  masih  merupakan  tabung  yang  lurus. 

Sistem pernafasan  dan  peredaran  darah  belum  sempurna.   Makanan  diperoleh dari  cadangan  kuning  telur  yang  belum  habis  diserap.  Pergerakan  larva ikan  yang  baru  menetas  relative  sedikit,  sehingga  masih  mudah  terbawa arus.  Perkembangan  prolarva  sangat  cepat  sehingga  morfologi  dan proporsi bagian tubuhnya cepat berubah.

 




Macam macam ukuran kuning telur ikan fase prolarva , 1 larva ikan mas, 2 larva ikan gurame, 3 larva ikan arwana

 

Post  larva,  masa  larva  dari  hilangnya  cadangan  kuning  telur  hingga terbentuknya  organ-organ  baru  atau  selesainya  tahap  penyempurnaan bentuk  dan  fungsi  organ.  Sehingga  post  larva  telah  dapat  bergerak  lebih aktif untuk  memenuhi  kebutuhannya dalam  mencari  makanan, meskipun pergerakannya  masih  terbatas.  Pada  ikan  mas  post  larva  biasa  dikenal dengan sebutan lokal kebul. Post larva masih mengandalkan pakan alami untuk memenuhi kebutuhannya.

Perpindahan  tahap  prolarva  menjadi  post  larva  merupakan  masa  kritis bagi perkembangan larva, hal ini disebabkan karena adanya perpindahan atau  masa  transisi  habisnya  kuning  telur.  Pada  masa  prolarva  makanan untuk  memenuhi  kebutuhan  hidup  dan  perkembangan  tubuh  diperoleh dari  cadangan  kuning  telur  melalui  proses  absorbsi  dalam  tubuh (indogenous feeding), setelah kuning telur habis terserap maka larva sudah harus  mulai  mencari  makanan  dari  luar  tubuhnya  (eksogenous  feeding).

Pada  masa  transisi  inilah terjadi  proses  katabolisme berupa  penghisapan kembali  jaringan  tubuh  yang  sudah  terbentuk  bertepatan  dengan pergerakan  larva.  Ketika  kuning  telur  hampir  habis  diserap,  larva  mulai beradaptasi  dengan  mengambil  makanan  dari  luar  tubuhnya. 

Masa perpindahan  inilah  yang  menjadi  masa  kritis  bagi  larva,  karena ketersediaan  pakan  alami  dalam  media  hidupnya  sangat  berpengaruh terhadap kelangsungan hidup larva dalam mempertahankan hidupnya.
Saluran  pencernaan  larva  ikan  umur  dua  hari  berbentuk  tabung  lurus, belum  ditemukan  rongga  pada  saluran  pencernaan.  Ketika  larva  /benih umur 4 hari, saluran pencernaan mulai berlekuk sedikit. Pada umur 4 hari Pada benih umur 10 hari saluran pencernaan semakin melengkung sampai ke anus dan hati sudah lengkap.

Benih  umur  12  hari  rongga  saluran  pencernaan dan  vili  (  lekukan  ) semakin  tinggi,  usus  depan  sudah  berdiferensiasi  menjadi  lambung. Diantara  lambung  dan  usus  terdapat  penyempitan  saluran  pencernaan  (pylorus/katup)  dan  di  belakangnya  terdapat  rongga  saluran-  saluran pencernaan yang biasanya menggelembung.

Aktivitas enzim protease di dalam saluran pencernaan semakin meningkat dengan  bertambahnya  umur  benih  dan  mencapai  puncaknya  pada  umur 17  hari.  Peningkatan  aktivitas  protease  tersebut  disebabkan  oleh meningkatnya  luas  permukaan  usus  dalam  penambahan  lekukan  (  vili) bagian  dalam  usus  dan  bertambah  panjangnya  usus  yang  menyebabkan meningkatnya  jumlah  sel  penghasil  enzim. 

Sesuai  dengan  pendapat Ferraris  et.al  (1986)  bahwa  peningkatan  aktivitas  protease  disebabkan meningkatnya  jaringan  penghasil  enzim.  Penyebab  lain  adalah meningkatnya  peran  pakan  yang  dikonsumsi  oleh  benih  ikan  baung sehingga terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas pakan yang berperan sebagai substrat yang diurai oleh enzim yang ada.

Setelah  berumur  sehari,  larva  akan  berkembang  dan  membentuk pasangan-pasangan  alat  sensor  pada  badannya  yang  disebut "cupulae". Alat  cupulae  ini  seperti  rambut-rambut  pendek. Pada  bagian ujung (dekat mulut) biasanya terdapat sepasang dan lainnya akan  berada pada  badannya.  Alat  sensor  ini  hanya  dapat  dilihat  dengan  bantuan mikroskop  dengan  posisi  larva  dilihat  dari  bagian  atas. 

Dengan terbentuknya  alat  ini  biasanya  larva  menjadi  sensitif  dari  pengaruh  luar. Cupulae ini akan tidak nampak atau hilang setelah larva berumur 2 hari.Menjelang  hari  ke  2  akan  terbentuk  pigmentasi  pada  mata  kemudian dibarengi  dengan  terbukanya  mulut. 

Setelah  mata  betul-betul  membuka yang  dapat  ditandai  dengan  adanya  sepasang  pigmen  hitam  di  bagian kepala  kemudian  mulut  larva  membuka  dengan  sempurna  maka selanjutnya larva mulai berusaha mencari dan memangsa pakan yang ada di sekitarnya. Pada saat ini, cadangan kuning telur mulai menipis.

Mulai  D-3 biasanya  larva  sudah aktif mencari mangsa, kuning telur habis diserap  dan  gelembung  minyak  mulai  menipis. Tampaknya  gelembung minyak  merupakan  cadangan  energi  untuk  larva  sampai  larva mendapatkan  mangsanya.Setelah  gelembung  minyak  habis  dan  larva ternyata  tidak  menemukan  mangsanya  maka  larva  akan  mati.

Pada periode  inilah  merupakan  masa-masa  kritis. Pada  D-3  umumnya  larva mulai  menampakkan  sirip-sirip  dada  dan  saluran  pencernaannya  mulai berkembang.Setelah  larva  berumur  sekitar  satu  minggu,  duri  punggung  mulai berkembang  dan  pigmentasi  di  seluruh  badan  mulai  tampak.  Untuk
selanjutnya,  larva  akan  berkembang  terus  hingga  sampai  mengalami metamorfosis  yaitu  perubahan  menuju  bentuk  ikan  lengkap  kira -kira berumur satu bulan.

Pada umur itu, semua organ sudah terbentuk dengan sempurna.  Setiap  jenis  larva  ikan  mempunyai  perbedaan  perkembangan morfologi.


Larva dan kuning telur ikan

Sebagian  besar  perkembangan  morfologis  larva  ikan  yang  baru  menetas adalah  mulut  belum  terbuka,  cadangan  kuning  telur  dan  butiran  minyak masih sempurna dan larva  yang baru menetas bersifat pasif. Hari ke  dua mulut  mulai  terbuka.  Selanjutnya  benih  mulai  berusaha. 
Selanjutnya memasuki hari ke tiga, larva ikan mulai mencari makan, pada saat tersebut cadangan  kuning  telurnya  pun  telah  menipis  yaitu  tinggal  25  –  30%  dari volume awal.Sirip  dada  mulai  terbentuk  sejak  benih  baru  menetas  meskipun  belum memiliki  jari-jari. 

Pada  hari  kedua  bakal  sirip punggung,  sirip  lemak  dan sirip ekor masih menyatu dengan sirip dubur. Jari jari sirip dubur muncul pada hari ke 5 dan lengkap pada hari ke 10. Pigmen mata pada larva yang
baru menetas sudah terbentuk dan  hari ke 2 mata telah berfungsi. Insang pada  hari  ke  sudah  terbentuk  dan  berkembang  sesuai  umur  larva.  Pada umur 10 hari insang sudah mulai berfungsi.

Kuning  telur  ikan  patin,  mas,  lele,  baung  dan  sebagainya  habis  terserap pada  hari  ke  3.  Sedangkan  ikan  nila,  gurame,  bawal  kuning  telurnya terserap  setelah  umur  4  hari.  Perbedaan  kecepatan  penyerapan  kuning telur  ini  terjadi  karena  ukuran  kuning  telur  yang  berbeda  dan  pengaruh faktor lingkungan terutama suhu dan kandungan oksigen terlarut.

Kamler dan  Kohno  (  1992  )  mengatakan  semakin  tinggi  suhu  maka  penyerapan kuning  telur  semakin  cepat.  Kuning  telur  yang  diserap  berfungsi  sebagai materi  dan  energi  bagi  benih  untuk  pemeliharaan,  diferensiasi, pertumbuhan dan aktivitas rutin. Buddington (1988) fungsi utama kuning
telur  adalah  untuk  pemeliharaan  dan  aktivitas  serta  relatif  kecil  untuk differensiasi.

Laju penyerapan kuning telur benih ikan baung dan patin pada fase awal menetas  lambat,  kemudian  cepat  dan  lambat  lagi    berlangsung  secara eksponensial.  Penyerapan  lambat  menjelang  hingga  habis  terserap. Heming  dan  Buddington  (  1988  )  bahwa  penyerapan  kuning  telur berlangsung  secara  eksponensial.  Penyerapan  lambat  menjelang  kuning telur  habis  terserap  diduga  disebabkan  oleh  berkurangnya  luas permukaan  sejalan  dengan  penyusutan  kantung  kuning  telur  dan
perubahan komposisi kuning telur.

 

1 komentar:

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ajoqq^^cc
    mau dapat penghasil4n dengan cara lebih mudah....
    mari segera bergabung dengan kami... (k)
    di ajopk.com ^_~
    segera di add Whatshapp : +855969190856

    BalasHapus

3.12 Melakukan persiapan wadah pemeliharaan larva komoditas perikanan di komoditas perikanan di bak, aquarium dan fiber glass

  Persiapan Wadah Bak, Aquarium dan Fiber Glass Pada kegiatan pembelajaran ini anda akan mempelajari sanitasi wadah pembe...